Gatal akibat uremik, tanda gangguan sistemik, bukan sekadar masalah kulit.
Pruritus uremik juga disebut sebagai pruritus soal penyakit ginjal kronis. Uremia mengarah pada kelebihan urea dalam darah dan terjadi ketika ginjal berhenti berfungsi (gagal ginjal).
Pruritus (gatal) adalah masalah umum bagi orang dengan gagal ginjal kronis atau penyakit ginjal stadium akhir.
Tingkat prevalensi pruritus uremik berkisar antara 20–50% pada penderita penyakit ginjal kronis, namun, angka yang dilaporkan tampak lebih rendah pada anak-anak, yaitu sekitar 9%.
Gatal akibat uremia tidak berhubungan dengan jenis kelamin , usia, etnis, durasi dialisis, atau penyebab gagal ginjal. Gatal tidak muncul ketika uremia disebabkan oleh gagal ginjal akut .
Pruritus uremik diduga disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, termasuk:
- Kulit kering
- Mengurangi keringat
- Metabolisme kalsium dan fosfor yang abnormal / peningkatan hormon paratiroid
- Konsentrasi magnesium dan aluminium yang abnormal
- Akumulasi racun
- Pertumbuhan saraf baru
- Peradangan sistemik
- Penyakit sistemik yang menyertai, khususnya diabetes dan penyakit hati.
- Rezim dialisis yang suboptimal.
Rasa gatal pada pruritus uremik palings ering menyerang pada punggung, namun juga dapat melibatkan lengan, kepala, dan perut.
Ciri-ciri khas lainnya yaitu:
- Rasa gatal semakin parah di malam hari, seringkali menyebabkan gangguan tidur
- Rasa gatal memburuk akibat panas dan stres
- Rasa gatal mereda dengan aktivitas fisik, suhu yang lebih dingin, dan mandi air panas atau dingin
- Fluktuasi gejala salam sesi hemodialisis.
Pruritus uremik dapat dikaitkan dengan beberapa gejala kulit non-spesifik yang disebabkan oleh garukan berulang .
Hal ini mungkin termasuk:
- Luka lecet dan kulit kering ( xerosis )
- Lichen simplex chronicus
- Nodul prurigo.
