Pruritus Kronis, Tantangan Diagnosis pada Gatal Berkepanjangan
Sampai saat ini studi belum memberikan prevaluensi pruritus kronis yang tidak diketahui penyebabnya. Namun prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia.
Pada pruritus kronis yang tidak diketahui penyebabnya, pruritus dapat bersifat lokal atau menyeluruh. Kulit mungkin tampak normal atau mungkin eritematosa , kasar, atau bergelombang.
Penggarukan berulang dapat menyebabkan perubahan kulit sekunder, seperti likenifikasi (penebalan, hiperpigmentasi , dan peningkatan tanda pada kulit), pendarahan, atau infeksi bakteri sekunder lokal.
Perubahan pada kulit meliputi:
- Plak menebal yang terlokalisasi
- Prurigo nodular , ditandai dengan nodul gatal berdiameter 10–20 mm.
- Impetigo akibat infeksi bakteri sekunder setelah menggaruk.
Penyebab pruritus kronis bersifat multifaktorial, yaitu ketika terdapat kombinasi dari dua atau lebih kondisi yang mendasarinya.
Faktor-faktor dalam riwayat pasien yang dapat membantu mengidentifikasi penyebab pruritus kronis yaitu:
- Waktu, lokasi, dan durasi pruritus
- Obat-obatan dan penyakit penyerta
- Lingkungan dan paparan (misalnya, kudis atau dermatitis kontak iritan).
Modifikasi gaya hidup untuk mengobati pruritus kronis yang tidak diketahui penyebabnya harus:
- Hindari panas, kompres es, mandi terlalu sering, alkohol, makanan pedas, dan kontak dengan zat iritan seperti minyak pohon teh dan kamomil.
- Mandi dengan air hangat kuku menggunakan pembersih lembut, non-alkali, dan bukan sabun.
- Pertimbangkan pelatihan relaksasi dan pendidikan psikososial untuk pasien dengan kecemasan.
Terlepas dari asal mula gatal tersebut, terapi empiris dapat meredakan gejalanya. Terapi tersebut meliputi:
- Pelembap emolien
- Krim antipruritik yang mengandung mentol atau polidocanol.
Baca juga: Waspadai selulitis eosinofilik, saat ruam kulit bukan selulitis biasa
